OPAN.BIZ

Proses Bayi Belajar Berdiri Hingga Berjalan

Pengalaman saya berikut ini merupakan pengamatan langsung terhadap perkembangan bayi kami ketika mulai berdiri dan berjalan. Sebelumnya, bayi saya sudah bisa duduk, sehingga sudah diberi makanan padat sebagai pendamping ASI.

Perkembangan selanjutnya yang kami tunggu-tunggu adalah mulai berdiri dan berjalan. Kami mulai dengan memapahnya, sambil memegang kedua tangannya dalam posisi berdiri hingga kakinya bergerak seolah-olah berjalan. Saat kami lepaskan, dia stabil dalam kondisi berdiri. Tetapi lama-kelamaan dia mengambil posisi berjongkok dan duduk. Karena kebiasaan tersebut, bayi kami mulai meraih sesuatu sebagai pegangan dan mencoba berdiri dengan berpegangan pada benda-benda seperti meja, kursi, ranjang, dan sebagainya.

Tiba suatu malam, anak saya sulit untuk tertidur. Dia terus bermain, merangkak kesana-kemari. Tidak seperti malam biasanya, digendong sambil diusap-usap lambat-laun mengantuk dan tertidur.

Kami pun rela menahan rasa ngantuk menemani dia bermain. Sampai suatu waktu, dia berhenti merangkak kesana-kemari. Tiba-tiba mengambil posisi jongkok dan mencoba mengangkat badannya dengan meluruskan kaki. Percobaan pertama dia terjatuh. Pada percobaan ketiga, neneknya mencoba membantu berdiri dengan menahan popok bagian belakang hingga posisi berdiri. Saya melihat ekspresi riang di wajahnya sambil tangannya bertepuk-tepuk. Beberapa lama kemudian, dia mencoba menggerakan kakinya tetapi langsung terjatuh dalam posisi duduk. Untungnya masih tertahan popok yang tebal.

Setelah melakukan percobaan berkali-kali, bayi kami akhirnya berhasil mengubah posisi dari duduk hingga berdiri. Akhirnya setelah puas melakukan percobaan, bayi kami mulai kelelahan dan akhirnya setelah dikelonin bisa tidur juga. Besoknya setelah terbangun, dia punya kebiasaan baru yaitu berlatih berdiri sampai stabil. Awalnya dia hanya bisa berdiri dengan kaki mengangkak. Tetapi akhirnya bisa berdiri dengan posisi kaki lurus dengan stabil.

Setelah bisa berdiri, aktivitas berikutnya adalah mencoba menggerakan kakinya agar bisa berpindah tempat. Percobaan awal hanya bisa dilakukan satu atau dua langkah. Kami berikan stimulus agar dia mau bergerak maju menuju kami. Hingga akhirnya dia bisa berjalan sendiri walaupun dengan tertatih. Beberapa minggu kemudian bayi kami mulai lancar berjalan dan bergerak menuju tempat yang dikehendakinya.

Kekhawatiran orang tua pada fase ini semakin bertambah. Khawatir tersandung, terperosok, dan jenis bahaya lainnya. Tetapi dengan pengarahan yang tepat, anak bisa belajar untuk menghindari berbagai macam bahaya.

Setelah bisa berjalan, aktivitasnya semakin kompleks. Bayi kami mulai berlari, memanjat, dan belajar loncat. Aktivitas ekstrem tersebut harus dibarengi dengan pengawasan yang lebih intensif. Orang tua tidak harus selalu melarang anak-anak ketika aktivitasnya menuju sesuatu yang membahayakannya. Untuk membuatnya tetap aman, orang tua bisa membuat pengalihan agar anak mengubah fokus dan terhindar dari bahaya.

Begitulah pengalaman saya melakukan pengamatan terhadap perkembangan anak ketika belajar berdiri hingga berjalan.


Oleh Opan
Seorang guru matematika yang hobi ngeblog dan menulis. Terwujudlah blog ini sebagai sarana berbagi pengetahuan yang saya miliki.


Demi menghargai hak kekayaan intelektual, mohon untuk tidak menyalin sebagian atau seluruh halaman web ini dengan cara apa pun untuk ditampilkan di halaman web lain atau diklaim sebagai karya milik Anda. Tindakan tersebut hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Jika membutuhkan halaman ini dengan tujuan untuk digunakan sendiri, silakan unduh atau cetak secara langsung.


No comments:

Post a Comment